Senin, 14 Maret 2016

berbagi senang dan duka bersama sahabat



Berbagi Senang dan Duka Bersama Sahabat


Berbagi Senang dan Duka Bersama Sahabat
Berbagi Senang dan Duka Bersama Sahabat. Semalam setidaknya saya berkumpul bersama 2 orang sahabat baik. Teman lama semenjak sekolah dari SD hingga SMA yang akhirnya kita berkumpul lagi selepas kuliah. Dulu sibuk dengan dunia pendidikan masing-masing, mengejar sarjana untuk mencapai cita-cita yang diimpikan. Tapi kami tetap tidak lupa untuk berkumpul dan berbagi cerita. Sekedar duduk ngobrol minum kopi atau coklat panas. Lantas melepas penat berbagi bahagia atau duka. Tidak jarang, kita terhindar dari stress dan gamang atau bimbang dalam hidup dengan cara berbagi cerita. Tidak sekedar cerita suka tapi juga duka. Berbagi cerita tidak perlu sampai meminta saran. Kadang kita cuma butuh untuk didengarkan.
Kita sendiri jika merasa sedih, setidaknya mencari berbagai cara untuk mengusir dan menghilangkan kesedihan. Dari melakukan hobi atau minat yang kita sukai. Jalan-jalan ke tempat wisata. Sampai bercerita dengan orangtua dan teman-teman. Untuk pilihan terakhir setidaknya kita harus dengan tegas memilih dan memilah siapa orang yang tepat untuk kita ajak bercerita. Setidaknya, seorang teman atau sahabat. Kalau perlu mereka yang tidak terkait langsung dengan apa yang kita keluhkan. Seperti duka tentang dunia kerja, bercerita pada rekan kerja bisa menjadi senjata makan tuan. Bisa jadi dia malah keceplosan bercerita dengan teman kerja lainnya yang nantinya melaporkan pada atasan. Kita bisa kena masalah baru. Duka tentang percintaan, tentu tidak kita bercerita pada teman yang juga dekat dengan kekasih kita.
Perlukah kita bercerita tentang duka pada seorang teman? Perlu. Selama bukan aib yang memalukan. Kita tentu bisa menilai seberapa buruk pengalaman untuk diceritakan. Kadang juga ada yang perlu dipendam sendiri. Sebagian orang menuliskannya pada buku diari. Sebagian pada blog dengan nama tokoh disamarkan. Bahkan sebagian lainnya mampu menjadikannya kisah novel yang menarik. Dengan menceritakan pada seorang sahabat, atau teman dekat, kita telah berusaha membuka diri agar teman dekat kita itu mampu bertindak layaknya seorang yang perduli. Ingat, orang lain tidak perduli bukan karena mereka memang tidak perduli. Tapi memang karena mereka tidak mengetahui apa yang menjadi cobaan hidup kita.
Dengan mempercayai teman dekat mengetahui kondisi hidup yang kita jalani, maka mereka merasa dipercayai. Setidaknya, mereka akan mau menceritakan apa yang mereka keluh kesahkan disuatu hari nanti. Hampir setiap orang kenalan (bukan teman dekat) akan berusaha meminta saran dan kritik pada kita dengan cara mereka menceritakan apa yang menjadi keluh kesahnya. Tapi tidak berarti setiap orang bisa menjadi tempat cerita untuk kesedihan kita. Selain teman, orangtua juga bisa menjadi tempat kita berkeluh kesah. Namun, tentu dalam arti yang mendewasakan. Tidak sekedar bersedih dan bingung. Jelaskan secara rinci, minta pendapat mereka yang bijaksana. Kedekatan kita dengan orangtua bisa dimulai dari apa yang menjadi duka yang kita rasakan.
Orang yang kita percayai selanjutnya bisa jadi seorang guru, dosen, mentor, atau orang lain yang kita anggap lebih bijaksana dalam mendengarkan keluh kesah kita dan juga dapat dimintai nasihat dengan baik. Bisa saja senior di kampus. Atau kakak kelas. Bahkan saudara kita yang lebih tua semisal kakak. Adik pun juga bisa kita ajak mengobrol masalah yang kita resahkan. Walau memang mungkin kita merasa kurang nyaman. Karena kita membuka kelemahan diri pada yang lebih muda. Tapi, sekali lagi, ini untuk membuat hati dan pikiran kita terbuka. Tidak lagi merasa galau, karena bercerita, berbagi sedih, adalah jalan terbaik untuk mendapatkan berbagai macam alasan yang logis yang seharusnya kita pikirkan.
Ya, malam itu diakhiri dengan semangat dan motivasi bersama. Intinya, selalu ada cara untuk tidak sekedar berbagi canda tawa jika berkumpul bersama teman. Tapi juga kesedihan agar bisa saling mendukung untuk menghadapi kehidupan di masa depan yang lebih baik lagi.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.