Sabtu, 26 September 2015

10 cara mengatasi malas


    pembuat aditya nugroho uye

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera!
tentang sifat anaknya yang pemalas. Malas belajar, malas buat kerja sekolah, malas buat ulangkaji, bahkan kita  solat pun malas. Sifat malas memang penyakit yang sangat kronik dan susah  diobati. Kalau kita  ada sifat ini, bermakna kita  mempunyai satu masalah yang serius. Tapi jangan risau kerana sifat malas ini boleh diatasi. Coba lihat tips-tips yang Abg. uye  kongsikan di bawah ini:
  1. Amalkan doa mengelak diri dari malas
  2. Ingat sasaran dan matlamat diri anda
  3. selalu mengingat belajar
  4. Banyak membaca bahan motivasi
  5. Susun dan mudahkan jadwal anda
  6. sehat dan tidur yang cukup
  7. Berolahraga dan beribadah
  8. Berkawan dengan orang yang positif
  9. Amalkan teknik pernafasan
  10. tidak pantang menyerah
Ada satu doa dalam Al Ma’thurat yang bertujuan untuk menghindarkan diri kita dari sifat lemah dan malas. Abg. search doa tersebut dalam Google tapi setakat ini belum terjumpa lagi. Kalau kita  ada terjumpa, kongsi-kongsikanlah di sini.
Sebenarnya kita  apabila kita berdoa kepada Allah (S.W.T), itu menunjukkan bahawa kita memang bersungguh-sungguh untuk berubah. Doa dan kesungguhan itulah yang akhirnya akan menggerakkan seluruh tubuh badan kita untuk berubah menjadi rajin.
Contohnya jika kita rasa malas ke sekolah di waktu pagi, kita  akan terfikir bahwa selepas solat subuh tadi kita  baru sahja berdoa supaya terhindar dari sifat malas. Jadi secara automatik, kita akan membuang segala perasaan malas kita





 

asalamualaikum riwayat hidup uye 

    perkenalkan nama saya aditya n ,saya tinggal di duta mekar asri ,saya sekolah di smp muhammadiyah 1 cileungsi ,  nama lengkap aditya nugroho ,lahir tanggal :11 februari 2001 ,jika ada salah dalam blog ini mohon di maafkan                                    

                                        wasalamualaikum wr wb

Salah satu hal yang dapat menjadikan amal saleh rusak adalah rasa bangga pada diri sendiri, merasa bangga pada diri sendiri merasa cukup dengan itu dan bersikap sombong. Penyakit yang berbahaya yang dapat merembes masuk untuk menjadikan jiwa manusia ternoda ini dapat menghancurkan amal saleh. Bahkan dampak bahayanya bisa masuk pada wilayah syirik khafi (samar) kepada Allah.
Berbahayanya penyakit sombong ini adalah punya kemampuan menyelinap masuk dan merusak ke dalam jiwa setiap manusia dan kalangan ulama, ahli ibadah, dai, mujahid, khatib, penulis dan orang yang mempunyai kemampuan talenta (bakat) dan kesuksesan. Penyakit ini tahu betul jalan yang ditempuhnya untuk masuk ke dalam jiwa-jiwa tersebut. Dapat dikatakan bahwa ia tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum merasa yakin bahwa jiwa yang dimasukinya itu telah merasa bangga akan kehebatan dirinya sendiri.
Menghancurkan amal shaleh
Artinya seorang yang bekerja dengan lelah dan sungguh-sungguh untuk melaksanakan sebuah amal saleh, kemudian penyakit sombong datang padanya, maka ketika itu pula menghancurkan amal salehnya. Kerena Rasulullah sudah memperingatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Adapun amal-amal yang membinasakan adalah berprilaku kikir, mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri. (HR Thabrani)
An-Nawawi berkata, “Ketahuilah bahwa keikhlasan terkadang di datangi oleh kesombongan. Siapa yang bangga terhadap amalnya, maka amalnya itu akan hancur. Demikian pula orang yang sombong, amalnya pun akan lebur
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah 264)
Jika anda bertanya, kenapa sikap bangga ini dapat menghancurkan amal saleh?
Jawabannya, karena Allah tidak menerima suatu amal saleh, kecuali jika dilakukan hanya karena mencari ridha-Nya dan memohon kepada-Nya pertolongan dalam mengerjakannya. Seorang yang sombong lebih suka mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dibandingkan memohon pertolongan kepada Allah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Seorang yang bangga terhadap dirinya sendiri, tidak bisa merealisasikan, “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Sebagaimana seorang yang riya (pamer) tidak bisa merialisasikan, “Hanya kepada-Mu kami beribadah.”
Nabi Isa Al-Masih berkata, “Wahai kaum hawaryyin (sebutan untuk kelompok sahabat Nabi Isa) banyak sekali orang yang beribadah, amalnya telah dirusak oleh kesombongannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pria berkata, “Demi Allah, Allah tidak mengampuni dosa si Fulan,” Maka Allah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi-Nya, bahwa perkataan pria itu keliru. Karena itu, hendaklah ia berbuat amal saleh (untuk menghapus dosanya yang telah mendahului atas keputusan Allah) (HR Thabrani)
Yahya bin Mu’adz memberi ultimatum yang sangat keras dalam masalah ini. Ia berkata, “Takutlah kalian dari sifat sombong, sebab kesombongan dapat membinasakkan orang yang memilikinya. Kesombongan sungguh dapat menghancurkan amal-amal kebaikan sebagaimana ganasnya api saat melahap kayu bakar…Seorang yang tidur pulas di malam hari (tidak bangun untuk shalat malam) kemudian di pagi harinya ia menyesal, itu lebih baik daripada orang yang bangun (beribadahnya dimalam hari) kemudian di pagi harinya ia berada dalam kesombongan.
Ibnu Mubarak pernah ditanya, “Dosa apa apakah yang tidak diampuni? Ia menjawab, “Sombong.”
Para ulama saleh memandang bahwa meninggal dunia dalam keadaan berdosa kemudian ia menyesalinya, itu lebih mereka sukai daripada meninggal dunia dalam keadaan sombong dengan amal baiknya
Dalam sebuh hadist diriwayatkan, “Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka! (HR Imam Ahmad)
Subhanallah bagaimana saat sekarang ini seseorang dengan mudahnya saudaranya memvonis kafir, murtad bahkan dibunuh, padahal mereka masih melaksanakan sholat, zakat dan haji bahkan jihad melawan kaum kafir ?
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa, 4: 93)”
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, “Daud tidak tertimpa lagi ujian setelah masalah takdir kecuali sifat sombong. Ia telah menyombongkan dirinya sendiri dalam perkataannya, “Wahai Tuhanku, tidak ada satu saat pun, baik siang atau malam, kecuali ada seorang hamba dari keluarga Daud yang beribadah kepada-Mu, shalat untuk-Mu, membaca tasbih, atau takbir. Daud pun menyebut banyak jenis ibadah lainnya.
Ternyata Allah tidak suka dengan ungkapan Daud tersebut. Allah berfirman, “Hai Daud, semua itu tidak terjadi kecuali dengan karunia-Ku. Seandainya tidak ada pertolongan-Ku, maka engkaupun tidak akan kuat melakukannya. Demi keagungan-Ku, suatu hari sungguh Aku akan menjadikanmu memakan dirimu sendiri.” Daud berkata, “Wahai Tuhan, tolong beritakanlah hal itu kepadaku.”Maka pada hari itu juga fitnah menimpanya (Al Hakim menyatakan hadist ini shahih, Adz Dzahavu pun menyetujuinya)
Jadi sombong adalah jenis penyakit yang hampir tidak ada seorangpun yang selamat darinya. Ia sangat berbahaya, dapat menjadikan diri seseorang merasa besar. Dari sini, ia membentuk menjadi sebuah berhala internal di dalam jiwa pemiliknya dengan mengagungkan namanya.
Memperturutkan hawa nafsu
Seorang yang sombong, memandang dirinya dengan puas dan bangga. Ia tidak melihat dirinya dari sisi kekurangan. Ketika manusia telah merasa puas dengan dirinya sendiri, maka jiwanya akan dituntun untuk mengikuti apa saja yang ia sukai.
Wahai Muhammad apa pendapatmu tentang orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah menyesatkan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah memateri (mengelas/mengunci mati) pendengaran mereka, hati mereka dan memasang tabir (tutup) di depan penglihatan mereka. Karena itu siapakah yang dapat memberikan petunjuk kepada mereka selain Allah? Mengapa orang-orang kafir itu tidak mau berpikir? (QS Jaatisyah [25]23)
Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu sendiri. (QS Muhammad [47] 16)
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (QS. Shad : 26)
Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan
Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin, “Dosa pertama kali yang dilakukan oleh Iblis dan Nabi Adam adalah kesombongan dan ambisiusme. Adapun sombong merupakan dosa Iblis yang terlaknat, kemudian berpindah secara turun-temurun. Sedangkan dosa Nabi Adam, yaitu sifat ambisius dan mengikuti keinginan syahwat, yang menyebabkan Nabi Adam bertaubat serta mendapatkan hidayah. Adapun dosa Iblis tersebut membuatnya menyalahkan takdir dan beranggapan hal itu merupakan suatu ketetapan, sedangkan dosa Nabi Adam mengharuskannya untuk mengakui dosanya serta memohon ampunan.
Orang-orang yang sombong dan yang menyalahkan takdir, senantiasa bersama pemimpin mereka yaitu Iblis menuju ke neraka. Adapun para pengikut syahwat kemudian memohon ampunan dan bertaubat lagi mengakui dosa-dosa mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyalahkan takdir, mereka senantiasa bersama bapak mereka yaitu Adam di surga.
Ibnu Qayyiam berkata aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan; karena orang yang sombong itu enggan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Adapun orang musyrik, ia menyembah Allah dan menyembah selain Allah.”
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,….” (Q.S. An-Nisa’: 48),
- See more at: http://www.arrahmah.com/kontribusi/bahayanya-sifat-sombong.html#sthash.OoUIcZMz.dpuf
Salah satu hal yang dapat menjadikan amal saleh rusak adalah rasa bangga pada diri sendiri, merasa bangga pada diri sendiri merasa cukup dengan itu dan bersikap sombong. Penyakit yang berbahaya yang dapat merembes masuk untuk menjadikan jiwa manusia ternoda ini dapat menghancurkan amal saleh. Bahkan dampak bahayanya bisa masuk pada wilayah syirik khafi (samar) kepada Allah.
Berbahayanya penyakit sombong ini adalah punya kemampuan menyelinap masuk dan merusak ke dalam jiwa setiap manusia dan kalangan ulama, ahli ibadah, dai, mujahid, khatib, penulis dan orang yang mempunyai kemampuan talenta (bakat) dan kesuksesan. Penyakit ini tahu betul jalan yang ditempuhnya untuk masuk ke dalam jiwa-jiwa tersebut. Dapat dikatakan bahwa ia tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum merasa yakin bahwa jiwa yang dimasukinya itu telah merasa bangga akan kehebatan dirinya sendiri.
Menghancurkan amal shaleh
Artinya seorang yang bekerja dengan lelah dan sungguh-sungguh untuk melaksanakan sebuah amal saleh, kemudian penyakit sombong datang padanya, maka ketika itu pula menghancurkan amal salehnya. Kerena Rasulullah sudah memperingatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Adapun amal-amal yang membinasakan adalah berprilaku kikir, mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri. (HR Thabrani)
An-Nawawi berkata, “Ketahuilah bahwa keikhlasan terkadang di datangi oleh kesombongan. Siapa yang bangga terhadap amalnya, maka amalnya itu akan hancur. Demikian pula orang yang sombong, amalnya pun akan lebur
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah 264)
Jika anda bertanya, kenapa sikap bangga ini dapat menghancurkan amal saleh?
Jawabannya, karena Allah tidak menerima suatu amal saleh, kecuali jika dilakukan hanya karena mencari ridha-Nya dan memohon kepada-Nya pertolongan dalam mengerjakannya. Seorang yang sombong lebih suka mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dibandingkan memohon pertolongan kepada Allah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Seorang yang bangga terhadap dirinya sendiri, tidak bisa merealisasikan, “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Sebagaimana seorang yang riya (pamer) tidak bisa merialisasikan, “Hanya kepada-Mu kami beribadah.”
Nabi Isa Al-Masih berkata, “Wahai kaum hawaryyin (sebutan untuk kelompok sahabat Nabi Isa) banyak sekali orang yang beribadah, amalnya telah dirusak oleh kesombongannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pria berkata, “Demi Allah, Allah tidak mengampuni dosa si Fulan,” Maka Allah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi-Nya, bahwa perkataan pria itu keliru. Karena itu, hendaklah ia berbuat amal saleh (untuk menghapus dosanya yang telah mendahului atas keputusan Allah) (HR Thabrani)
Yahya bin Mu’adz memberi ultimatum yang sangat keras dalam masalah ini. Ia berkata, “Takutlah kalian dari sifat sombong, sebab kesombongan dapat membinasakkan orang yang memilikinya. Kesombongan sungguh dapat menghancurkan amal-amal kebaikan sebagaimana ganasnya api saat melahap kayu bakar…Seorang yang tidur pulas di malam hari (tidak bangun untuk shalat malam) kemudian di pagi harinya ia menyesal, itu lebih baik daripada orang yang bangun (beribadahnya dimalam hari) kemudian di pagi harinya ia berada dalam kesombongan.
Ibnu Mubarak pernah ditanya, “Dosa apa apakah yang tidak diampuni? Ia menjawab, “Sombong.”
Para ulama saleh memandang bahwa meninggal dunia dalam keadaan berdosa kemudian ia menyesalinya, itu lebih mereka sukai daripada meninggal dunia dalam keadaan sombong dengan amal baiknya
Dalam sebuh hadist diriwayatkan, “Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka! (HR Imam Ahmad)
Subhanallah bagaimana saat sekarang ini seseorang dengan mudahnya saudaranya memvonis kafir, murtad bahkan dibunuh, padahal mereka masih melaksanakan sholat, zakat dan haji bahkan jihad melawan kaum kafir ?
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa, 4: 93)”
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, “Daud tidak tertimpa lagi ujian setelah masalah takdir kecuali sifat sombong. Ia telah menyombongkan dirinya sendiri dalam perkataannya, “Wahai Tuhanku, tidak ada satu saat pun, baik siang atau malam, kecuali ada seorang hamba dari keluarga Daud yang beribadah kepada-Mu, shalat untuk-Mu, membaca tasbih, atau takbir. Daud pun menyebut banyak jenis ibadah lainnya.
Ternyata Allah tidak suka dengan ungkapan Daud tersebut. Allah berfirman, “Hai Daud, semua itu tidak terjadi kecuali dengan karunia-Ku. Seandainya tidak ada pertolongan-Ku, maka engkaupun tidak akan kuat melakukannya. Demi keagungan-Ku, suatu hari sungguh Aku akan menjadikanmu memakan dirimu sendiri.” Daud berkata, “Wahai Tuhan, tolong beritakanlah hal itu kepadaku.”Maka pada hari itu juga fitnah menimpanya (Al Hakim menyatakan hadist ini shahih, Adz Dzahavu pun menyetujuinya)
Jadi sombong adalah jenis penyakit yang hampir tidak ada seorangpun yang selamat darinya. Ia sangat berbahaya, dapat menjadikan diri seseorang merasa besar. Dari sini, ia membentuk menjadi sebuah berhala internal di dalam jiwa pemiliknya dengan mengagungkan namanya.
Memperturutkan hawa nafsu
Seorang yang sombong, memandang dirinya dengan puas dan bangga. Ia tidak melihat dirinya dari sisi kekurangan. Ketika manusia telah merasa puas dengan dirinya sendiri, maka jiwanya akan dituntun untuk mengikuti apa saja yang ia sukai.
Wahai Muhammad apa pendapatmu tentang orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah menyesatkan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah memateri (mengelas/mengunci mati) pendengaran mereka, hati mereka dan memasang tabir (tutup) di depan penglihatan mereka. Karena itu siapakah yang dapat memberikan petunjuk kepada mereka selain Allah? Mengapa orang-orang kafir itu tidak mau berpikir? (QS Jaatisyah [25]23)
Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu sendiri. (QS Muhammad [47] 16)
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (QS. Shad : 26)
Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan
Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin, “Dosa pertama kali yang dilakukan oleh Iblis dan Nabi Adam adalah kesombongan dan ambisiusme. Adapun sombong merupakan dosa Iblis yang terlaknat, kemudian berpindah secara turun-temurun. Sedangkan dosa Nabi Adam, yaitu sifat ambisius dan mengikuti keinginan syahwat, yang menyebabkan Nabi Adam bertaubat serta mendapatkan hidayah. Adapun dosa Iblis tersebut membuatnya menyalahkan takdir dan beranggapan hal itu merupakan suatu ketetapan, sedangkan dosa Nabi Adam mengharuskannya untuk mengakui dosanya serta memohon ampunan.
Orang-orang yang sombong dan yang menyalahkan takdir, senantiasa bersama pemimpin mereka yaitu Iblis menuju ke neraka. Adapun para pengikut syahwat kemudian memohon ampunan dan bertaubat lagi mengakui dosa-dosa mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyalahkan takdir, mereka senantiasa bersama bapak mereka yaitu Adam di surga.
Ibnu Qayyiam berkata aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan; karena orang yang sombong itu enggan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Adapun orang musyrik, ia menyembah Allah dan menyembah selain Allah.”
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,….” (Q.S. An-Nisa’: 48),
- See more at: http://www.arrahmah.com/kontribusi/bahayanya-sifat-sombong.html#sthash.OoUIcZMz.dpuf
Salah satu hal yang dapat menjadikan amal saleh rusak adalah rasa bangga pada diri sendiri, merasa bangga pada diri sendiri merasa cukup dengan itu dan bersikap sombong. Penyakit yang berbahaya yang dapat merembes masuk untuk menjadikan jiwa manusia ternoda ini dapat menghancurkan amal saleh. Bahkan dampak bahayanya bisa masuk pada wilayah syirik khafi (samar) kepada Allah.
Berbahayanya penyakit sombong ini adalah punya kemampuan menyelinap masuk dan merusak ke dalam jiwa setiap manusia dan kalangan ulama, ahli ibadah, dai, mujahid, khatib, penulis dan orang yang mempunyai kemampuan talenta (bakat) dan kesuksesan. Penyakit ini tahu betul jalan yang ditempuhnya untuk masuk ke dalam jiwa-jiwa tersebut. Dapat dikatakan bahwa ia tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum merasa yakin bahwa jiwa yang dimasukinya itu telah merasa bangga akan kehebatan dirinya sendiri.
Menghancurkan amal shaleh
Artinya seorang yang bekerja dengan lelah dan sungguh-sungguh untuk melaksanakan sebuah amal saleh, kemudian penyakit sombong datang padanya, maka ketika itu pula menghancurkan amal salehnya. Kerena Rasulullah sudah memperingatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Adapun amal-amal yang membinasakan adalah berprilaku kikir, mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri. (HR Thabrani)
An-Nawawi berkata, “Ketahuilah bahwa keikhlasan terkadang di datangi oleh kesombongan. Siapa yang bangga terhadap amalnya, maka amalnya itu akan hancur. Demikian pula orang yang sombong, amalnya pun akan lebur
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) (QS Al-Baqarah 264)
Jika anda bertanya, kenapa sikap bangga ini dapat menghancurkan amal saleh?
Jawabannya, karena Allah tidak menerima suatu amal saleh, kecuali jika dilakukan hanya karena mencari ridha-Nya dan memohon kepada-Nya pertolongan dalam mengerjakannya. Seorang yang sombong lebih suka mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, dibandingkan memohon pertolongan kepada Allah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Seorang yang bangga terhadap dirinya sendiri, tidak bisa merealisasikan, “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Sebagaimana seorang yang riya (pamer) tidak bisa merialisasikan, “Hanya kepada-Mu kami beribadah.”
Nabi Isa Al-Masih berkata, “Wahai kaum hawaryyin (sebutan untuk kelompok sahabat Nabi Isa) banyak sekali orang yang beribadah, amalnya telah dirusak oleh kesombongannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang pria berkata, “Demi Allah, Allah tidak mengampuni dosa si Fulan,” Maka Allah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi-Nya, bahwa perkataan pria itu keliru. Karena itu, hendaklah ia berbuat amal saleh (untuk menghapus dosanya yang telah mendahului atas keputusan Allah) (HR Thabrani)
Yahya bin Mu’adz memberi ultimatum yang sangat keras dalam masalah ini. Ia berkata, “Takutlah kalian dari sifat sombong, sebab kesombongan dapat membinasakkan orang yang memilikinya. Kesombongan sungguh dapat menghancurkan amal-amal kebaikan sebagaimana ganasnya api saat melahap kayu bakar…Seorang yang tidur pulas di malam hari (tidak bangun untuk shalat malam) kemudian di pagi harinya ia menyesal, itu lebih baik daripada orang yang bangun (beribadahnya dimalam hari) kemudian di pagi harinya ia berada dalam kesombongan.
Ibnu Mubarak pernah ditanya, “Dosa apa apakah yang tidak diampuni? Ia menjawab, “Sombong.”
Para ulama saleh memandang bahwa meninggal dunia dalam keadaan berdosa kemudian ia menyesalinya, itu lebih mereka sukai daripada meninggal dunia dalam keadaan sombong dengan amal baiknya
Dalam sebuh hadist diriwayatkan, “Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka! (HR Imam Ahmad)
Subhanallah bagaimana saat sekarang ini seseorang dengan mudahnya saudaranya memvonis kafir, murtad bahkan dibunuh, padahal mereka masih melaksanakan sholat, zakat dan haji bahkan jihad melawan kaum kafir ?
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-Nisa, 4: 93)”
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, “Daud tidak tertimpa lagi ujian setelah masalah takdir kecuali sifat sombong. Ia telah menyombongkan dirinya sendiri dalam perkataannya, “Wahai Tuhanku, tidak ada satu saat pun, baik siang atau malam, kecuali ada seorang hamba dari keluarga Daud yang beribadah kepada-Mu, shalat untuk-Mu, membaca tasbih, atau takbir. Daud pun menyebut banyak jenis ibadah lainnya.
Ternyata Allah tidak suka dengan ungkapan Daud tersebut. Allah berfirman, “Hai Daud, semua itu tidak terjadi kecuali dengan karunia-Ku. Seandainya tidak ada pertolongan-Ku, maka engkaupun tidak akan kuat melakukannya. Demi keagungan-Ku, suatu hari sungguh Aku akan menjadikanmu memakan dirimu sendiri.” Daud berkata, “Wahai Tuhan, tolong beritakanlah hal itu kepadaku.”Maka pada hari itu juga fitnah menimpanya (Al Hakim menyatakan hadist ini shahih, Adz Dzahavu pun menyetujuinya)
Jadi sombong adalah jenis penyakit yang hampir tidak ada seorangpun yang selamat darinya. Ia sangat berbahaya, dapat menjadikan diri seseorang merasa besar. Dari sini, ia membentuk menjadi sebuah berhala internal di dalam jiwa pemiliknya dengan mengagungkan namanya.
Memperturutkan hawa nafsu
Seorang yang sombong, memandang dirinya dengan puas dan bangga. Ia tidak melihat dirinya dari sisi kekurangan. Ketika manusia telah merasa puas dengan dirinya sendiri, maka jiwanya akan dituntun untuk mengikuti apa saja yang ia sukai.
Wahai Muhammad apa pendapatmu tentang orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah menyesatkan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya. Allah memateri (mengelas/mengunci mati) pendengaran mereka, hati mereka dan memasang tabir (tutup) di depan penglihatan mereka. Karena itu siapakah yang dapat memberikan petunjuk kepada mereka selain Allah? Mengapa orang-orang kafir itu tidak mau berpikir? (QS Jaatisyah [25]23)
Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu sendiri. (QS Muhammad [47] 16)
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (QS. Shad : 26)
Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan
Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Salikin, “Dosa pertama kali yang dilakukan oleh Iblis dan Nabi Adam adalah kesombongan dan ambisiusme. Adapun sombong merupakan dosa Iblis yang terlaknat, kemudian berpindah secara turun-temurun. Sedangkan dosa Nabi Adam, yaitu sifat ambisius dan mengikuti keinginan syahwat, yang menyebabkan Nabi Adam bertaubat serta mendapatkan hidayah. Adapun dosa Iblis tersebut membuatnya menyalahkan takdir dan beranggapan hal itu merupakan suatu ketetapan, sedangkan dosa Nabi Adam mengharuskannya untuk mengakui dosanya serta memohon ampunan.
Orang-orang yang sombong dan yang menyalahkan takdir, senantiasa bersama pemimpin mereka yaitu Iblis menuju ke neraka. Adapun para pengikut syahwat kemudian memohon ampunan dan bertaubat lagi mengakui dosa-dosa mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyalahkan takdir, mereka senantiasa bersama bapak mereka yaitu Adam di surga.
Ibnu Qayyiam berkata aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Sifat sombong itu lebih buruk daripada kesyirikan; karena orang yang sombong itu enggan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Adapun orang musyrik, ia menyembah Allah dan menyembah selain Allah.”
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,….” (Q.S. An-Nisa’: 48),
- See more at: http://www.arrahmah.com/kontribusi/bahayanya-sifat-sombong.html#sthash.OoUIcZMz.dpuf

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.